Dec 30 2011

Konservasi Sumberdaya Air Terpadu Telaga Merdada Pegunungan Dieng Jawa Tengah

Published by chandra under General

Telaga Merdada berada di area Pegunungan Dieng yang secara administratif terletak di Desa Karang Tengah Kecamatan Batur Kabupaten Banjarnegara Propinsi Jawa Tengah. Telaga Merdada memiliki luas daerah tangkapan (cathment area) sekitar 75 ha dengan luas genangan sekitar 22 ha dan kapasitas tampungan air diperkirakan sekitar 518.520 m³. Keberadaan Telaga Merdada memiliki nilai yang sangat penting bagi masyarakat sekitarnya karena merupakan sumber air bagi kegiatan pertanian di sekitar area telaga tersebut dan juga merupakan area penyangga ekologi dan ekosistem kawasan setempat. Meskipun daerah tangkapan air (cathment area) Telaga Merdada relatif kecil namun keberadaan air telaga tidak pernah mengalami kekeringan meskipun terus menerus digunakan untuk keperluan irigasi tanaman pertanian hortikultura yang luas, khususnya tanaman kentang.

Telaga Merdada

Penggunaan lahan di Kawasan Telaga Merdada saat ini adalah untuk lahan pertanian dan sebagian masih berupa hutan/semak belukar. Luas lahan pertanian mencapai 44 ha sedangkan sisanya berupa hutan/semak sekitar 11 ha. Karena potensi sumberdaya air dan peranannya yang begitu signifikan bagi perekonomian masyarakat, maka keberadaan Telaga Merdada perlu mendapatkan perhatian pemerintah.

Pengambilan Air di Telaga Merdada untuk Pertanian

Pada tahun 2010, dilaksanakan program konservasi terpadu kerjasama antara Balai Besar Wilayah Sungai Serayu Opak (BBWS.SO) dengan Pusat Studi Agroekologi Universitas Gadjah Mada berupa pemasangan tandon air, penguatan teras dengan batu dan penanaman tanaman konservasi. Pemasangan tandon air bertujuan untuk mengurangi penggunaan pompa air, sehingga dapat menghemat biaya pengaksesan air untuk irigasi. Penguatan teras dan penanaman tanaman konservasi bertujuan untuk mengurangi erosi lahan dan sedimentasi serta untuk konservasi air dengan mengoptimalkan infiltrasi dan mengurangi limpasan permukaan (surface runoff). Pelaksanaan kegiatan melibatkan masyarakat petani disekitar telaga merdada sebagai pelaksana. Sosialisasi dilaksanakan untuk mendapatkan berbagai masukan dari masyarakat, agar tujuan kegiatan sesuai dengan kebutuhan masyarakat.

Sosialisasi Kegiatan Konservasi Terpadu

Pada kegiatan konservasi terpadu ini, juga dilaksanakan perbaikan saluran drainase dan perbaikan bangunan terjun (drop structure). Keberadaan saluran pembuangan yang baik mampu menurunkan erosi lahan dan mengotimalkan fungsi lahan dengan mengurangi kelebihan air. Perbaikan dan penguatan bangunan terjun untuk mengoptimalkan fungsi bangunan terjun dan meredam dampak dari energi yang ditimbulkan oleh aliran air yang berpotensi menimbulkan erosi alur.

Sketsa Perbaikan dan Penguatan Teras dan Drop Structure

Sesuai dengan rencana, bak penampungan air berupa tandon diletakan pada titik tertinggi dilahan. Alasan pemilihan penggunaan tandon air dari pada pembuatan bak adalah karena faktor kemudahan dalam pengadaan dan pemindahan kelokasi yang ideal. Tandon air sebanyak dua unit dengan kapasitas masing-masing 1500 liter (total 3000 liter) dihubungkan dengan satu pipa input yang terhubung dengan pompa dan beberapa pipa output yang berfungsi mendistribusikan air ke lahan.

Tandon Air dan Jaringan Pipa Distribusi Air

Perbaikan dan penguatan teras dilakukan dengan menyempurnakan bentuk fisik teras dan memasang batu sebagai penguat pada bagian depan teras, begitu juga dengan perbaikan dan penguatan SPA dan drop structure. Tinggi teras yang direncanakan adalah setinggi satu meter, namun karena kondisi horizontal interval yang tidak seragam maka pada pelaksanaannya menyesuaikan kondisi dilapangan.

Perbaikan dan Penguatan Terasering

Penanaman tanaman konservasi dilaksanakan di areal seluas 2-3 ha dibagian tepi lahan pertanian dengan jarak tanam sekitar 6 meter seperti yang direncanakan. Keberadaan tanaman konservasi diharapkan mampu meningkatkan penutupan vegetasi permanen untuk konservasi tanah dan air.

Penyerahan dan Penanaman Tanaman Konservasi

Comments Off

Dec 30 2011

Program Konservasi Sumberdaya Air dan Lahan Terpadu Kawasan DAS Serayu Hulu

Published by chandra under General

Peta Kawasan DAS Serayu Hulu

Kawasan DAS Serayu hulu yang berada disekitar Pegunungan Dieng merupakan kawasan yang mengalami ancaman degradasi karena penggunaan lahan untuk kegiatan pertanian secara berlebihan. Topografi yang tidak rata, dengan kelerengan lahan yang termasuk kategori curam semakin menambah potensi kerusakan kawasan DAS. Sedimentasi dari kawasan DAS cukup besar bersumber dari erosi lahan dan longsoran disepanjang alur sungai. Menghadapi kondisi yang seperti ini, Direktorat Sumberdaya Air Kementerian Pekerjaan Umum melalui Balai Besar Wilayah Sungai Serayu Opak (BBWS.SO) bekerjasama dengan Jurusan Teknik Pertanian Fakultas Teknologi Pertanian UGM segera menyusun program konservasi terpadu. Upaya ini adalah dengan membangun bangunan pengendali sedimen, gully plug, penanaman tanaman konservasi dan penguat alur sungai dan perbaikan fasilitas sarana air bersih. Progam ini bersifat demplot percontohan dimana pelaksanaannya melibatkan peran serta masyarakat. Lokasi pelaksanaan program ini dipilih di Desa Patak Banteng Kecamatan Kejajar Kabupaten Wonosobo yang secara geografis masuk di dalam wilayah DAS Serayu Hulu.

Sosialisasi Program

Demplot konservasi terpadu melibatkan peran serta masyarakat setempat melalui pemerintahan (desa) setempat dan kelompok masyarakat. Peranan masyarakat adalah sebagai pelaksana, pemelihara dan penerima manfaat dari demplot baik secara langsung maupun tidak langsung. Peranan pemerintah melalui Balai Besar Wilayah Sungai Serayu Opak (BBWS-SO) adalah sebagai penyedia fasilitas atau material untuk keperluan, sedangkan keterlibatan pihak akademisi (UGM) lebih pada pembinaan, pengawasan dan pendampingan kegiatan tersebut yaitu mencakup kegiatan sosialisasi kegiatan, survey sosial ekonomi, peningkatan kesadaran dan peran masyarakat dalam kegiatan konservasi , pembuatan desain serta monitoring dan evaluasi pelaksanaan kegiatan.

Gully Plug

Desain Gully Plug Pasangan Batu, bentuk yang dipilih menyerupai bendung yang terdiri dari lantai mika, mercu, kolam olak dan sayap. Lantai muka berfungsi untuk melindungi bangunan dari efek piping yang dapat menggerus dasar bangunan. Mercu dibuat berbentuk ogee dengan efek streamline supaya air dapat mengikuti bentuk mercu dan tidak merusak bangunan. Elevasi atas mercu disesuaikan dengan kedalaman saluran yang diinginkan. Kolam olak dibuat agak dalam dan difungsikan juga untuk fondasi bangunan. Elevasi bagian hilir kolam olak dibuat sama dengan dasar saluran untuk menghindari gerusan akibat loncatan air. Sayap bangunan dibuat untuk mengarahkan aliran air dan menghindari aliran air di samping-samping bangunan.

BPS dengan Bronjong

Bangunan Pengendali Sedimen (BPS) berupa bronjong, dilengkapi dengan ijuk di muka mercu. Bentuk bangunan ini didesain menyerupai bendung yang terdiri dari mercu, kolam olak dan sayap bronjong . Pada bagian mercu dilengkapi dengan ijuk dengan tujuan untuk menaikkan muka air setinggi mercu sehingga warga sekitar dapat mengambil air dengan mudah. Pada bagian hilir diberi pengaman berupa satu lapis tumpukan bronjong untuk menghindari gerusan aliran air sungai. Sayap bronjong pada bagian hulu dan hilir dibuat agak miring secara horisontal dengan tujuan untuk mengarahkan aliran sehingga aliran air tidak melewati sisi samping bronjong dan tidak membahayakan kestabilan bangunan. Pemasangan tumpukan bronjong dibuat selang-seling arahnya sepaya tercipta ikatan yang kuat antar bronjong

Penanaman Tanaman Konservasi

Penanaman tanaman konservasi dilakukan di sepanjang alur sungai di sekitar lokasi BPS, Gully Plug dan sumber mata air. Jenis tanaman yang dipilih adalah cemara sesuai dengan permintaan masyarakat setempat.

Perbaikan Fasilitas Sanitasi

Perbaikan fasilitas sanitasi berupa pembuatan tempat pengambilan air bersih, pembuatan bak mandi, pemasangan closet jongkok, perbaikan perpipaan air bersih dan air kotor, pembuatan septic tank dan sumur resapan. Pelaksanaan demplot konservasi sumberdaya air terpadu secara umum mendapatkan respon positif dari masyarakat. Air yang tertampung pada gully plug dimanfaatkan oleh masyarakat untuk irigasi tanaman kentang. Sarana sanitasi dan akses air bersih telah bisa dimanfaatkan secara langsung oleh masyarakat

Comments Off

Feb 17 2011

Pemanfaatan Lahan Rawa Kawasan Selatan Kabupaten Purworejo untuk Perikanan Air Tawar

Published by chandra under General

Wilayah DAS  Serayu- Opak terdiri dari beberapa sungai yang bermuara di laut Samudra Hindia, diantaranya adalah sungai Jali dan Bogowonto. Secara umum sungai tersebut terdiri dari beberapa anak sungai baik di bagian hulu maupun pun hilir. Anak sungai dibagian hilir dicirikan mempunyai kelerengan rendah sehingga alur sungai sangat rentan banjir seperti pada sungai Lereng dan  Jati atau Pasir yang menghubungkan Sungai Wawar dan Jali serta  Bogowonto dan Jali, sungai tersebut membujur searah garis pantai dan lokasinya dekat pantai dan bermuara dekat dengan muara sungai Bogowonto dan Jali

Peta Kawasan Kali Jati

Sungai Lereng dan Jati atau Pasir ini alirannya sangat ditentukan oleh kondisi sungai Bogowonto dan Jali, terutama pada saat banjir maupun tertutupnya muara dari kedua sungai tersebut. Sungai Jati dan Pasir mengalir diantara Gumuk pasir pantai dan wilayah sekitar bantaran sungai terdapat genangan permanen dan semi permanen yang pada saat ini belum dimanfaatkan secara optimal. Potensi luas lahan yang dapat dikembangkan sekitar 0,5 km x 14 km atau seluas 7 km2 setara dengan 700 ha yang terdiri atas lahan pertanian tadah hujan dan lahan genangan. Lahan yang bisa dikembangkan untuk perikanan yaitu merupakan lahan genangan permanen yaitu seluas 0,2 km x 14 km atau setara 2,8 km2 atau 280 ha.

Pada tahun 2008-2009 di ujicobakan budidaya air tawar dikawasan rawa kali jati yaitu di dua lokasi Desa Dudu Kulon dan Desa Giri Rejo. Kegiatan tersebut meruakan kerja sama Jurusan Teknik Pertanian UGM dengan Balai Besar Wilayah Sungai Serayu Opak (BBWS-SO) dan  melibatkan kelompok tani “Mina Raharja” di Girirejo dan kelompok Tambak Lestari” di Dudu Kulon. Demplot  kolam ikan di Girirejo  dan Dudukulon masing-masing 4.500 m2, jenis ikan adalah karper, nila merah dan nila gift ukuran bibit 5 cm-7 cm. Jumlah atau volume bibit  karper 2.000 ekor, nila mera  4.000 ekor dan nila gift 5.000 ekor. Waktu  penyebaran bibit : 25 Juli 2009 dan waktu panen 1 dan 5 Oktober 2009 dengan produksi : karper 400kg, Nilai merah 300 kg dan nila gift 600kg . Pakan dikolam desa Girirejo merupakan pakan alamiah (gangang, tanaman berdaun lebar udang air tawar dan pelet 60 kg). Pakan alamiah sangat melimpah dan tersedia sebagai bahan pakan ikan.

Pembagian Benih Ikan Oleh TIM BBWS-SO

Untuk mencapai masa panen hanya membutuhkan waktu tiga bulan. Ketersediaan pakan yang melimpah merupakan faktor utama cepatnya pertumbuhan ikan.

Pemanenan Ikan

Beberapa input teknologi yang diperlukan :

  1. Membuat pintu-pintu air pengendali banjir dan drainasi lahan berdasarkan anlisis hidrologi kawasan bonorowo pantai Selatan.
  2. Melakukan analisis kesesuaian lahan  dan pengelompokan lahan pertanian  berdasarkan kararteristik hidrologi  wilayah dan jenis tanah
  3. Menentukan pola tanam wilayah non kolam
  4. Melakukan koordinasi  kegiatan lintas institusi kedinasan lingkup kab. Purworejo
  5. Membuat fasilitas infrastruktur jalan usaha tani di lokasi pengembangan mulai dari jalan desa ke lahan pengembangan.

Comments Off